Jauh sebelum Pemalang menjadi kesatuan wilayah administratif yang mantap sejak R.Mangoneng, Pangonen atau Mangunoneng menjadi penguasa wilayah Pemalang yang berpusat di sekitar Dukuh Oneng, Desa Bojongbata pada sekitar tahun 1622. Nama Klegen sudah menjadi salah satu Desa di Kecamatan Comal. Berawal dari datangnya para penyebar agama islam yang dibuktikan dengan adanya unsur-unsur kebudayaan Islam juga dapat dihubungkan seperti adanya makam Syech Maulana Maghribi di Kawedanan Comal. Kemudian adanya kuburan Rohidin, Sayyid Ngali paman dari Sunan Ampel, syeh Jumadil kubro yang makamnya di Dusun Kaso Desa sarwodadi juga memiliki misi untuk mengislamkan penduduk setempat, dari cerita diatas itulah Legenda asal usul Desa Klegen dimulai.

Nyi Legeni
Ki Bintoro atau Kyai Bintoro salah satu punggawa dari kesultanan Demak, mendapatkan perintah dari keputusan dewan wali dan mandat kerajaan untuk menyebarkan Misi agama Islam di bagian daerah pertengahan wilayah antara kadipaten Cirebon (disana sudah ada syeh syarif Hidayatullah bersama para cantriknya ), dan di pusat kekuasaan kesultan Demak, kemudian Ki Bintoro menjalankan tugas itu melalui perjalanan laut hingga akhirnya bliau singgah dan menetap di perdukuhan sebelah selatan pesisir pantai utara jawa, yang sekarang perdukuhan itu di sebut Desa Klegen. Desa Klegen sendiri di ambil dari nama seorang Perempuan penduduk asli yaitu Legeni atau Nyi Legeni. Bintoro sesungguhnya bukan nama Asli dari sang punggawa kesultan demak itu, melainkan menunjuk sebuah tempat atau kotaraja dimana bliau berasal yakni Demak Bintoro. Adapapun nama aslinya berdasarkan dari cerita rakyat turun temurun tidak diketahui secara pasti. Diperdukuhan itulah Ki Bintoro awalnya mendatangi kepala dukuh atau sesepuh dusun itu untuk minta ijin singgah sekaligus memperkenalkan sejatinya dirinya beserta tujuan bliau datang, oleh sesepuh dukuh tersebut di sambut dengan baik bahkan menjadi tamu pendatang istimewa yang membuat warga senang atas kehadirannya. Kemudian Ki Bintoro tinggal dan diberi tempat oleh sesepuh Dukuh tersebut.
Seperti disebutkan diatas jauh sebelum Pangeran Benowo datang dari kesultanan Pajang dan berkuasa menjadi Adipati di Pemalang, perdukuhan Klegen itu sudah lama ada, hal ini jika membaca sejarah bahwa awal berdirinya Pajang saja sekitar tahun 1549 dan yang menjadi Sultan Pajang pertama adalah Sultan Hadiwijaya (Jaka Tingkir) sedangkan Pangeran Benowo adalah raja Pajang ketiga dan memerintah sekitar tahun 1586-1587, bergelar Prabuwijaya. Naskah-naskah babad memberitakan bahwa Pangeran Benawa menuju ke arah barat dan membangun sebuah pemerintahan yang sekarang bernama Pemalang. Konon ia juga meninggal di Pemalang, di desa Penggarit. Padahal Ki Bintoro adalah punggawa dari Kesultanan Demak, kesultanan Islam Pertama di nusantara, Demak Sendiri berdiri sekitar (1475–1548) Pada awal abad ke-16, Kerajaan Demak telah menjadi kerajaan yang kuat di Pulau Jawa, tidak satu pun kerajaan lain di Jawa yang mampu menandingi usaha kerajaan ini dalam memperluas kekuasaannya dengan menundukan beberapa kawasan pelabuhan dan pedalaman di nusantara.
Seperti diketahui, Walisongo di dalam menyebarkan ajaran agama Islam di tanah Jawa ini tidak begitu saja melangkah, melainkan mereka menggunakan cara-cara dan jalan (taktik dan strategi) yang diperhitungkan benar-benar, memakai pertimbangan-pertimbangan yang masak, tidak ngawur sehingga agama Islamdisampaikan kepada rakyat dapat diterima dengan mudah dan penuh kesadaran, bukan karena terpaksa. Ki bintoro di dalam menyebarkan ajaran Islam benar-benar memahami dan mengetahui keadaan rakyat yang masih tebal dipengaruhi kepercayaan agama Hindu Budha dan gemar menampilkan budaya-budaya Jawa yang berbau kepercayaannya itu, maka bertindaklah beliau sesuai dengan keadaan yang demikian itu, sehingga taktik dan strategi perjuangan beliau disesuaikan pula dengan keadaan, ruang dan waktu. Berhubung pada waktu itu para pemeluk agama Syiwa Budha yang fanatik terhadap ajaran agamanya, maka akanvberbahaya sekali apabila dalam mengembangkan agama Islam selanjutnya tidak dilakukan dengan cara yang bijaksana dan melalui jalan pendekatan yang mudah ditempuh. Dengan cara itulah Ki Bintoro dalam menjalankan misi syiar Islam dapat diterima dengan cepat.

Ki Bintoro
Seiring dengan perjalanan waktu, tidak terasa Ki Bintoro merasa sudah betah dan nyaman di perdukuhan itu,semakin banyak rakyat yang bersimpati dan masuk memeluk islam, sosok yang berwibawa, dengan postur tubuh yang gagah, bersih kulitnya dan selalu menjaga etika kesantunan menjadikan ayah nyi Legeni, sesepuh perdukuhan itu menaruh simpati padanya, hatinya ingin menjodohkan putrinya Legeni yang semata wayang itu agar bisa bersanding dengan Ki Bintoro yang penuh kharisma. Sama halnya dengan Ki Bintaro saat pertama kali melihat gadis kampung itu, sebetulnya sudah tumbuh bibit bibit cinta, namun tidak berani untuk mengatakannya.
Nyi legeni sosok wanita kampung yang Sejatinya banyak disukai di gandrungi dan menjadi khayalan bagi banyak laki – laki karena bagai memiliki sebuah sihir terlihat menarik di mata pria. Ayahnya sebagai pemuka dukuh yang sangat di hormati warga, menanamkan pada dirinya jiwa Jiwa Sosial Yang Besar, sehingga nyi Legeni memiliki rasa yang sangat berkualitas sekali dalam kehidupan sehari hari. Ia juga memiliki rasa pengertian yang tinggi disamping memiliki simpatik dengan keadaan dan lingkungan di sekitarnya, Nyi Legeni memiliki hati dan sifat yang sangat simpatik dengan lingkungan disekelilingnya. Ia juga memiliki Jiwa Keibuan, supel atau murah Hati Wanita supel adalah sosok inner beauty yang sangat di inginkan dan di dambakan oleh semua laki-laki, dimana seorang wanita yang supel tahu bagaimana saat berkomunikasi dengan seorang anak kecil, sepadan, dan juga orang yang di lebih tua. Maka pantaslah jika Nyi Legeni Wanita yang memiliki sifat ini akan banyak di perebutkan oleh bayak pria kalangan atas. seseorang yang mengerti dengan fasionable (sopan) tinggi akan sangat banyak dilirik oleh kaum adam yang bertanggung jawab. kehidupan Nyi Legeni berjalan mulus, ia sangat patuh dan penurut dengan titah Ayahnya Ki Buyut Among.
Banyak wanita cantik di dunia mengalami tragedi dalam hidupnya. Kenapa? Apa pesan sesungguhnya dari Tuhan yang dialamatkan pada para perempuan cantik. Para pemilik

Ki Buyut Among
Tidak ada keterangan yang pasti tentang
asal usul dari mana ki Buyut Among berasal namun keberadaan suatu dukuh, desa atau daerah tidaklah berdiri secara tiba-tiba, namun jauh sebelumnya tentu saja sudah ada kehidupan masyarakat yang membentuk kebudayaan di daerah
tersebut.
Legenda merupakan ceritra prosa rakyat yang dianggap oleh empunya cerita sebagai suatu yang mendekati benar-benar hal yang di ceritakan terjadi.
Legenda yang berkembang berdasarkan
dari beberapa referensi, diantaranya dari
sesepuh atau orang tua penduduk asli
daerah setempat dimana berhubungan
dengan beberapa wilayah di wilayah yang
berdekatan yang terdapat beberapa
legenda yang menunjukkan persamaan
asal usul dari cerita yang sama misalkan
Asal usul di Desa Gintung Comal tidak
terlepas kiprah ki buyut muktar dan nyi
Sitar, Desa Susukan comal dikenal dengan
Mbah Kyai Tunggul yang sakti, Desa Sidokare Ampel Gading dengan legenda Ki
buyut atau Syeh Hadis, Ki Buyut Balut Di Purwoharjo Comal hal ini berdasar
Karakteristik Kepribadian Masyarakatnya,
Jika kita baca sejarah bahwa di Pemalang
pernah terdapat penguasa yang bernama
Raden Sambungyudo. Beliau adalah keturunan dari Komandan perang dari
Kerajaan Majapahit pada saat Perang
Bubat yang bernama Ki Bondan Lamatan.
Tokoh Ki Bondan Lamatan ini berguru
kepada sesepuh Agama Pemalang yang
bernama Ki Buyut Banjaransari. Ki Bondan
lamatan ini tidak kembali ke majapahit
namun menetap di pemalang hingga
memiliki seorang anak yang bernama Joko
Malang. Joko Malang inilah yang nantinya
bernama Raden Sambungyudo yang
menjadi pimpinan daerah Pemalang.
Pada masa kekuasaan Kerajaan
Majapahit, tepatnya pada tahun 1357 -
1358 M, daerah Pemalang pernah
dimanfaatkan oleh Patih Gajah Mada
sebagai pangkalan militer angkatan
perang majapahit ke Sriwijaya. Dukungan
orang Pemalang di bawah pimpinan Ki
Buyut Jiwandono atau Ki Buyut Banjaransari yang membuahkan hasil gemilang. Oleh karena itu sedikitnya 17 nama daerah di Pemalang dijadikan daerah perdikan, yaitu suatu wilayah yang tidak dipungut pajak karena dianggap berjasa. Daerah Pemalang mulai tampak dan berkembang pada akhir tahun 1350M, dimana kekuasaan Kerajaan Majapahit mencapai puncak kejayaan di bawah kekuasaan Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajahmada. Dengan adanya Sumpah Palapa yang diikrarkan oleh Gajah Mada yang bertekat untuk menyatukan seluruh wilayah Nusantara di bawah panji-panji Kerajaan Majapahit. Pengaruh Kerajaan Majapahit kala itu sampai ke Pulau Madagaskar di dekat Benua Afrika.
Dari cerita diatas bisa jadi Ki Buyut Among
merupakan salah satu dari kerabat Ki
bondan Lamatan keturunan dari senopati
Perang dari majapahit, yang kemudian
sama sama menetap di wilayah Pemalang, apalagi Desa Klegen merupakan masuk wilayah Pemalang. Ki Bondan lamatan menetap di sekitar Desa Asem doyong, sedangkan Ki buyut Among menetap di perdukuhan Klegen dan termasuk salah satu perdukuhan yang tidak di pungut pajak oleh penguasa Majapahit, karena dianggap Ki buyut Among ikut memberikan sumbangsihnya atas kemenangan Majapahit.
Seperti halnya Ki Bintoro yang menyebarkan agama islam di perdukuhan
Klegen, Ki Buyut Among sesungguhnya
bukan nama sebenarnya, melainkan salah
satu gelar yang diberikan oleh rakyat
karena tokoh ini dianggap menjadi suri
Tauladan, Panutan yang bisa mengayomi,
melindungi dan memberikan pencerahan
terhadap rakyat setempat. (Penulis belum di ijinkan untuk menyampaikan atau untuk menulis baik nama yang sebenarnya maupun menunjukan tempat makam tokoh ini oleh beberapa nara sumber, karena belum saatnya untuk di publikasikan).
Konon dari cerita legenda ini, nanti dimasa mendatang dari keturunan ki buyut Among, akan menjadi Penguasa di kadipaten Pemalang, Seperti halnya ki Bondan Lamatan, yang keturunannya menjadi penguasa yakni pangeran Sambung yuda.
Ki Buyut Among bukanlah manusia sembarangan, Bliau adalah manusia yang dapat menggali potensi dirinya dengan maksimal dan penuh, manusia yang mampu mencapai puncak titik dari pendaya gunaan baik batin maupun lahir, baik jiwa maupun raganya, bliau memiliki kecerdasan spritual yang mumpuni, kecerdasan otak yang cemerlang dan banyak rakyat menyebutnya dengan orang yang sakti mandraguna, bijaksana, penuh wibawa. Ki buyut Among hidup di dua jaman yakni di jaman kerajaan majapahit dan juga di jaman kesultanan demak, di karunia usia yang panjang sebagaimana Sunan Giri dann Sunan kalijaga yang hidup di dua kekuasaan jaman di Tanah jawa.
Ki buyut Among, meninggalkan kisah yang penuh isnpiratif, dan Aura gaibnya masih dirasakan sampai sekarang, dengan kesaktiannya yang mampu meninggalkan kisah hingga hari ini, manusia yang dapat memusatkan medan magnet pada dirinya, sehingga jangankan manusia memandang Ki buyut Among penuh kharisma, para makhluk gaib pun mendekatinya semata untuk berguru padanya, Tuhan memandang manusia dari tingkatan ketakwaannya, bukan yang lain meski Tuhan Maha Adil dan memberlakukan sama di MataNya, namun karena jerih payahnya yang selalu di upayakan menuju ketakwaan untuk beribadah maka Tuhan memberikan kelebihan makhluk kepada sebagian makhlukNya.
Seperti Ki Buyut Among sang Aulia atau syeh yang di berkahi, banyak orang yang memiliki ilmu tertentu dapat berkomunikasi dengan korinnya Ki buyut Among, bahkan belum lama ini beberapa santri dari luar daerah datang ke Desa Klegen hanya karena ingin menziarahi makamnya, hal itu berdasarkan petunjuk ilham, begitulah sang Aulia Syeh atau Ki Buyut Among yang potensi dirinya, aura kebaikannya menjadikan inspirasi pada dunia.
Dari legenda ini tidak ada yang menyebutkan siapa nama istrinya dengan pasti, namun hanya di ceritakan bahwa ki buyut Among memiliki putri semata wayang yang cantik jelita diberi nama legeni.
Yang kemudian perdukuhan ini lebih dikenal dengan ssebutan klegen, bukan Ki buyut Among atau Ki Bintoro.
mengapa Legeni yang mendominasi kepopuleran itu sebab banyak pria dari berbagai perdukuhan yang jatuh cinta dan menjadikan legeni obyek imajinasi dan harapan masa depannya bahkan banyak anak kepala perdukuhan yang gandrung dengan nyi Legeni, mengharap cintanya. Namun karena seringnya ketemu dengan Ki Bintoro dan Ayahnya Ki Buyut Among yang sudah mengidolakan ki Bintoro sebagai menantunya maka ibarat pepatah jawa, witing trisno gumantung soko kulino. Maka akhirnya antara Ki bintoro dan nyi legeni menjadi sepasangan kekasih yang saling mengasihi. (Bersambung)